TextIcon September242014

resume buku tokoh pergerakan

     Gie adalah pemuda kritis yang mulanya adalah pemuda yang sering merasa gusar dalam perasaan dan pemikirannya yang terus bertumbuh lalu mencurahkan ide – ide, pemikirannya dalam rentetan catatan harian yang menjadi teman setianya hingga 12 tahun. Pada masa itu, terjadi pergolakan besar – besaran di negara Indonesia. Gie, selain menjadi saksi juga menjadi tokoh yang ikut memberikan andil dalam perubahan. Selain lewat catatan hariannya yang menjadi his life privation recorded, Ia juga merekam jejak pemikirannya dalam berbagai media cetak yang saat itu diharapkan mampu menyebarkan pola pikirnya yang cenderung idealis namun realis. Secara nyata, Ia juga menjadi pion utama dalam tonggak awal demonstrasi mahasiswa, pergerakan mahasiswa yang mulai menanyakan berbagai kebijakan pemerintah dengan melakukan aksi turun ke jalan.

     Lewat catatan hariannya, akan terlihat Gie yang begitu idealis, nasionalis, realis dan yang lebih penting, Ia menjadi sosok yang selalu menjunjung nilai kebenaran. “Siang tadi ketika aku momong kera, aku bertemu dengan seorang (bukan pengemis) yang tengah memakan kulit mangga……  dan kuberikan Rp. 2,50 dari uangku. Uangku hanya Rp 2,50 waktu itu….. Ya, dua kilometer dari pemakan kulit, “paduka” kita mungkin lagi tertawa – tawa, makan – makan dengan istri – istrinya yang cantik….. Kita, generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau…. Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia…… Cuma pada kebenaran kita harapkan. Kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu. Sebuah nilai kebenaran yang menjadi acuan kehidupan seorang Gie sehingga selanjutnya ia akan dikenal sebagai sosok yang keras namun real dalam bertindak dan mencoba mengembalikan ‘kesadaran’ masyarakat yang sudah kadung melihat pemerintah sebagai suatu area ‘tabu’ untuk disentuh. Dan Ia melakukannya.

     Soe Hok Gie. Pemuda yang kritis pada jalannya keadilan juga memiliki ‘pelarian’ selain  perjuangannya di kampus kepada pemerintah. Kekagumannya pada alam dan kegemarannya menaiki gunung menjadikan pribadinya semakin tangguh namun seketika rapuh saat menikmati keindahan alam yang ia rekam melalui tulisannya. Ini juga yang menjadi arus kegiatan bernama MAPALA yang telah Ia buat jauh waktu sebelumnya. Bersama kawan – kawannya, melalui sebuah organisasi kecil yang tercipta hanya untuk pergi ke alam dan menikmati kebesaranNya.

            Namun sayangnya tokoh inspiratif yang sangat kita kagumi ini meninggal pada umur yang sangat muda, yaitu pada usia 26 tahun, di tempat yang ia kagumi dan merupakan tempat ia menikmati keindahan, yaitu gunung semeru. Penyebab kematian Gie masih simpang siur sampai sekarang, tapi satu yang pasti, bahwa pada Desember 1969 kita telah kehilangan satu manusia inspiratif yang kritis, yang telah berperan banyak dalam sejarah Indonesia.

Esensi: kita dibiasakan membaca cerita yang panjang namun inspiratif supaya kita bisa mengadaptasi nilai positifnya dalam kehidupan sehari-hari dan kita memiliki idealisme yang lebih baik sebelumnya sebagai mahasiswa.

TextIcon September182014

kritik artikel pilrek

                Mengingat dekatnya kita dengan momentum paling berpengaruh untuk Universitas Indonesia, pengawalan akan momentum ini merupakan salah satu hal yang sangat kritis disamping momentum itu sendiri. Pemilihan pilrek tahun ini tidak hanya menentukan nasib Universitas Indonesia selama lima tahun mendatang, tapi juga menentukan nasib UI selama 20 tahun kedepan, juga nasib Negara Indonesia yang saya cintai ini. Karena membangun UI berarti membangun Indonesia.

                Mungkin saya belum membuka mata cukup lebar, saya belum cukup peka atas masalah-masalah yang terjadi di UI. Saya dengan santai membayar BOPB penuh karena malas mengurus berkas, namun tak mengapa. Bila saya telaah lebih jauh lagi, betul sekali bahwa hak kita untuk mendapat beban biaya pendidikan seminim-minimnya masih sulit didapatkan, dan yang kita dapatkan malah isu tentang kenaikan biaya pendidikan tahun depan.

                Memang dalam hal tersebut presiden RI dan kementrian pendidikan masih memegang peran penting, namun hal tersebut tidak melepaskan kedudukan rektor sebagai sosok yang memegang peran penting pula. Maka dari itu, hal mendasar yang masing-masing individu butuhkan—yaitu hak akan pendidikan dan biaya pendidikan yang murah, sangat dipengaruhi oleh rektor kita nanti.

                Kesenjangan fasilitas antar fakultas juga merupakan hal yang tertangkap oleh indera dan akal pikir saya, setelah membaca beberapa tulisan pribadi tentang harapan kepada calon rektor kelak saya memahami bahwa kesenjangan fasilitas itu masih banyak dijumpai di UI. Dan akan menjadi klise apabila saya katakan bahwa hal tersebut berdampak buruk bagi mahasiswa, tetapi begitulah, itulah kenyataannya. Dan lagi-lagi, rektor sangat memegang peran penting dalam hal ini.

               Saya tidak perlu membahas tentang korupsi yang terjadi di UI, karena kita sudah sama-sama tahu. Dan korupsi itu sudah menjadi fenomena yang biasa di Indonesia. Dan saya akui hal tersebut cukup sulit diberantas apa bila orang yang berkesempatan untuk korupsi tersebut tidak memiliki integritas tinggi. Maka tidak banyak yang dapat saya kemukakan mengenai subtopik ini, cukup kita camkan lagi poin nomor 6 dari persyaratan calon rektor yang tertulis di pemilihanrektor.ui.ac.id, yaitu:

               Membuat tulisan ringkas yang menunjukkan integritas, komitmen, dan kepemimpinan yang tinggi meliputi kreativitas untuk pengembangan potensi UI, wawasan luas mengenai pendidikan tinggi, motivasi calon untuk menjadi Rektor dan program kerja yang mengacu kepada Kebijakan Umum UI, serta gambaran diri atau uraian tentang diri sendiri, maksimum 5 (lima) halaman;

               Hal inilah yang perlu menjadi pertimbangan besar bagi dewan pemilih calon rektor untuk memutuskan pilihannya. Dan saya harap, dewan pemilih calon rektor yang akan datang dapat membedakan mana sekiranya tulisan yang menentukan karakter calon rektor dan mana yang merupakan omong kosong belaka. Maka saya aminkan akan hal tersebut.

               Mengingat peran kita civitas academica UI, yang merupakan orang-orang terbanyak yang merasakan betul dampak dari pergantian rektor baru, kita bertugas untuk mengawal kegiatan ini berlangsung tentunya. Dan seperti yang dipaparkan di artikel terkait pemilihan rektor UI, bahwa mahasiswa hanya memegang sekitar 4% hak suara, maka saya harap 16 anggota MWA UI lainnya mau dengan rendah hati mempertimbangkan suara kami. Libatkan mahasiswa dalam memutuskan hasil disamping wewenang MWA UI sendiri untuk menentukan. Saya harap MWA UI dapat membuka pikiran lebih luas dalam menilai calon rektor, bukan hanya dari profil dan kesanggupan calon rektor, tetapi juga dari hasil musyawarah seluruh mahasiswa yang diwakilkan. Dengan begitu demokrasi di UI ini dapat terpenuhi dengan sebagai mestinya sila ke empat pancasila kita.

 

Esensi penugasan: kita dapat berpikir kritis dalam pemikiran rektor UI sebagai bentuk pengawalan kita terhadap momentum penting ini.

TextIcon September112014

Analisis video potret Indonesia

Budaya Kecil Indonesia

                Didalam video potret Indonesia yang kelompok saya rekam, ada beberapa hal yang bisa diambil poinnya. Di dalam video kami, kami menyajikan potret berupa budaya-budaya kecil Indonesia yang kita anggap sepele, namun memiliki nilai yang cukup besar untuk mempertahankan karakter bangsa, yaitu perilaku ramah, sopan santun, semangat juang meraih cita-cita, budaya sehat melalui resep tradisional leluhur, toleransi beragama, sampai rasa nasionalisme yang cukup tinggi pada negara.

                Keramah-tamahan di Indonesia sudah sering dianggap hal kecil yang sepele, padahal hal ini merupakan ciri khas  positif bagi bangsa Indonesia. Di beberapa negara maju, keramahan sudah ditinggalkan karena sebagian besar warga negaranya bersifat individualis dan lebih mementingkan kebutuhan daripada rasa kasih dan gotong royong. Sapa menyapa merupakan kegiatan yang mendekatkan masing-masing hati dan menghadirkan keceriaan kecil yang khas bagi orang yang melakukannya. Beberapa masyarakat provinsi di Indonesia yang sudah tergolong sebagai masyarakat perkotaan, tetap memiliki ciri sapa-menyapa dan keramah-tamahan yang mana menjadi karakter unik bagi Indonesia, karena seperti ciri masyarakat perkotaan, keramah-tamahan dan hubungan kasih antar masyarakatnya seharusnya sudah tidak ada lagi.

                Kegiatan “salim” juga merupakan budaya positif di Indonesia sebagai tanda bahwa kita menghormati orang yang lebih tua. Berbeda dengan kebiasaan berjabat tangan di negara maju, mereka tidak memiliki budaya untuk “bersalim”, bahkan dengan guru mereka hanya cukup memberikan senyum simpul atau bahkan hanya dengan melakukan kontak mata sambil mengangguk. Budaya bersalim ini sudah seharusnya dipertahankan sebagai tanda kasih sayang yang selaras dengan rasa hormat kita dengan orang yang lebih tua.

                Semangat berjuang untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri juga dapat dibilang sebagai budaya di Indonesia, orang-orang tidak pandang bulu bersemangat untuk meraih masa depan yang lebih baik di perguruan tinggi negeri, walaupun banyak juga yang sudah apatis untuk melanjutkan pendidikan karena tidak memiliki biaya dan kurangnya motivasi dari keluarga. Namun, budaya kecil yang hanya dirasakan sebagian kecil pula masyarakat di Indonesia harus tetap dipupuk dan disebarkan lagi pengaruhnya, agar semua orang dapat memiliki semangat yang tinggi untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang perkuliahan.

                Minyak angin yang disebut dalam video tersebut menunjukkan pada kita bahwa kita secara turun menurun mewarisi dan menerapkan pengobatan tradisional dari leluhur kita, tidak terpengaruh gaya hidup luar untuk sedikit-sedikit mengkonsumsi obat racikan pabrik. Di dalam video itu juga ditampilkan tentang remaja Indonesia yang masih menjunjung tinggi nilai agama dan norma susila, yang jarang sekali dimiliki oleh kaum modernis sekarang ini.

                Di Indonesia juga kita hidup berpedoman dari pancasila, dengan sila pertama dan ketiga yang apabila dileburkan bermakna bahwa masyarakatnya dengan religius taat kepada Tuhannya masing-masing namun tetap menjaga dan menjunjung tinggi persatuan Indonesia. Dalam video dapat dilihat bahwa Indonesia memiliki toleransi agama yang baik dan merupakan budaya yang patut dipertahankan pula.

                Upacara bendera merupakan hal yang jarang dilakukan di negara-negara lain, di Indonesia sejak kecil generasi penerusnya sudah dididik untuk melaksanakan upacara bendera sebagai bentuk awal rasa nasionalisme kepada negara Indonesia.

                Indonesia masih memiliki budaya-budaya kecil yang patut dipertahankan karena membawa dampak positif bagi masyarakatnya. Potret Indonesia tidak seharusnya melulu dihubungkan dengan hal-hal berbau kemiskinan, kriminalitas, ketidakdisiplinan, dan hal-hal buruk lainnya. Kita bisa melihat Indonesia sebagai negara dengan banyak adat dan budaya baik yang sebaiknya kita gali dan amalkan, tentu disamping itu kita harus tetap mengintrospeksi diri kita sebagai bagian dari masyarakat Indonesia agar tercipta negara dengan kesejahteraan masyarakat yang tinggi.

TextIcon September102014

Prestasi, Organisasi, Mahasiswa Seutuhnya.

essay opini

Tema     : Mahasiswa Berprestasi dan Organisatoris

     Mahasiswa memiliki peran yang sangat penting dalam membangun sebuah negara, mahasiswa adalah agen perubahan, yang maksudnya dalam tangan mahasiswa lah arah bangsa tergenggam. Mau dibawa kemana negara ini selanjutnya, bisa diprediksi melalui generasi muda bangsa tersebut, khususnya mahasiswa. Mahasiswa memiliki tugas yang tidak sedikit, untuk membawa nasib bangsanya ke tingkat yang lebih baik, mahasiswa harus mempersiapkan diri baik dalam aspek ilmu pengetahuan, soft skills, maupun aspek sikap dan tingkah laku, semua harus dipersiapkan matang-matang.

     Mahasiswa memiliki beberapa tugas, yaitu salah satunya belajar dengan menghadiri perkuliahan guna mempersiapkan bekalnya tentang ilmu pengetahuan yang kelak akan membawa kebermanfaatan bagi dirinya sendiri terlebih kepada bangsanya. Mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang memiliki tingkat intelektual dan kecerdasan tinggi, diukur dari indeks prestasinya setiap semester. Namun, apakah sebatas itu? Apakah sebatas IPK?

     Menurut saya, mahasiswa yang sejatinya baik adalah mahasiswa yang mampu berprestasi baik dibidang akademik maupun non-akademik, serta yang aktif dalam kegiatan organisasi. Menurut saya dan hasil berbagi pengalaman dari para senior, organisasi memiliki banyak manfaat. Manfaat yang pertama adalah, organisasi adalah wadah bagi kita untuk mengembangkan karakter. Dalam berorganisasi, mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis untuk memecahkan masalah-masalah dari topik yang sedang didiskusikan dalam organisasi tersebut. Dengan berorganisasi, kita dapat lebih mengeksplorasi diri kita sendiri dan memahami cara berpikir diri kita sendiri. Selain itu, banyak anggota lain yang dapat mengevaluasi kekurangan dalam diri kita yang kelak dapat kita ubah pelan-pelan.

     Manfaat yang kedua, dengan berorganisasi kita dapat mengasah ketrampilan kita dalam berhubungan dengan orang lain, meliputi cara menjalin silaturahmi dengan orang lain, cara mempersuasi orang lain, dan cara-cara bersosialisasi lainnya. Dan manfaat yang ketiga adalah dengan berorganisasi kita dapat menjadi disiplin terhadap waktu.

     Berorganisasi tidaklah mudah bagaikan bergabung dengan kelompok bermain. Dalam organisasi, jadwal-jadwal sudah tersusun padat yang mana harus selalu kita hadiri. Kita juga sering bertemu dengan berbagai masalah dalam berorganisasi, baik masalah mengenai program kerja, sampai konflik kecil akibat perbedaan visi antar sesama anggota. Berorganisasi juga memakan banyak waktu luang kita, sehingga kita kurang waktu untuk bersantai dan mengerjakan tugas, sehingga kita tertuntut untuk tidak menunda pekerjaan dan disiplin.

     Maka, dapat dipahami bahwa mempertahankan prestasi kita dibidang akademis sembari kita berorganisasi pun tidaklah mudah. Kita harus mempertahankan prestasi kita karena tugas utama kita adalah belajar, maka belajarlah dan ukirlah prestasi dalam bidang akademis, dengan cara mengikuti lomba-lomba tingkat nasional maupun internasional. Tetapi, dengan manfaat yang tak terhitung dari pengalaman berorganisasi, maka jangan lewatkan kesempatan untuk aktif di dalam suatu organisasi.

     Menurut saya, ketika kita ingin menjadi mahasiswa berprestasi dalam bidang akademis, tidaklah lantas kita mengorbankan kegiatan berorganisasi kita, dan begitu pula sebaliknya. Kita dapat mempertahankan kedua posisi tersebut dan menjadi yang terbaik dikeduanya. Namun, tetap ada satu yang pasti harus kita korbankan, yaitu waktu tidur. Dengan kegiatan organisasi yang padat, dan peran kita sebagai mahasiswa intelektual, kita tidak bisa bersantai-santai dan menunda pekerjaan. Karena apabila kita tidak mengorbankan waktu santai kita untuk mengerjakan tugas-tugas, maka kita justru akan jadi yang tertinggal.

     Oleh karena itu bagi saya, mahasiswa perlu menjadi organisatoris tanpa menurunkan kualitas mereka dibidang akademis. Untuk mewujudkan hal tersebut, mahasiswa harus mendorong diri mereka sendiri untuk keluar dari zona amannya dan biasakanlah diri untuk bersibuk. Karena dengan begitu, kita dapat menjadi mahasiswa seutuhnya yang mampu membawa nasib negara ini ke tingkat yang lebih baik.

Esensi penugasan: kita dapat menyampaikan pendapat kita pribadi tentang mahasiswa sebagai organisatoris namun tetap berprestasi, yang kemudian akan memotivasi diri kita sendiri sehingga terbentuklah cara pandang kehidupan berkampus yang ideal.

CHAIRUNNISA NIKEN LESTARI

1406572832

S1 REGULER KESMAS 2014

SGD 10

TextIcon September32014

artikel review journal

Young women smokers’ response to using plain cigarette packaging: qualitative findings from a naturalistic study

Sumber: http://www.biomedcentral.com/1471-2458/14/812

      Didalam jurnal kesehatan ini, penulis mempelajari tentang respon wanita-wanita perokok terhadap konsumsi rokok dengan kemasan “polos”. Kemasan polos atau plain packaging disini maksudnya adalah satu pak rokok dengan kemasan yang telah didesain polos tanpa merk, seluruh paknya hanya didesain dengan gambar ‘seram’, yaitu gambar-gambar realistis tentang akibat merokok, seperti penyakit kanker mulut, kanker paru-paru, kebutaan, dan penyakit lainnya yang disebabkan oleh pengonsumsian rokok.

       Gagasan bungkus rokok polos ini telah dipelajari sejak tahun 2007, dan Australia adalah negara pertama yang mewajibkan seluruh industri rokok mengeluarkan produknya dengan kemasan polos pada tahun 2012, yang setelahnya diterapkan oleh beberapa negara. Tujuan dari didesainnya kemasan rokok polos ini adalah untuk menurunkan daya tarik kemasan, meningkatkan keefektifan peringatan bahaya merokok, dan mencegah kemasan rokok baik bentuk dan warnanya dijadikan sebagai indikator dari bahaya rokok oleh perokok.

       Penelitian ini menggunakan metode Study Design, dimana diambil sampel yaitu wanita muda berusia 18 hingga 35 tahun yang sudah dipastikan melalui sampel napasnya bahwa mereka perokok aktif. Pengumpulan sampel ini berlangsung dari Juni 2011 hingga Maret 2012. Lalu mereka diminta untuk merokok rokok kemasan polos ini, mereka diberi questioner dan diminta untuk mengisinya dua kali seminggu. Dari 301 wanita yang direkrut, 187 wanita menyelesaikan questionernya dan mereka pun diwawancara selama kurang lebih 20 menit.

Hasil wawancara secara garis besar dibagi menjadi 3 kategori: persepsi kemasan; perasaan yang timbul akibat kemasan; perasaan tentang produk dan merokok; penghindaran dan perilaku merokok.

       Dalam tanggapan persepsi kemasan, 16 dari 23 partisipan menyatakan bahwa kemasan polos sangat buruk dilihat, tidak stylish dan aneh, dan membuat mereka merasa tua. 7 orang sisanya menganggap bahwa merokok tidak berhubungan dengan kemasan, dan mereka tidak keberatan selama isi rokoknya sama. Beberapa partisipan merasa janggal dan canggung dengan kemasannya saat mereka mengonsumsi rokok dari kemasan polos ini, bahkan ada yang menganggap bahwa warna dari bungkus rokok tersebut membayang dikepalanya sebagai peringatan bahwa seperti itulah warna paru-parunya kelak. Rokok dari kemasan polos ini juga dianggap terlalu ‘kuat’ bagi partisipan, sehingga mereka merasa tidak nyaman saat merokok. Beberapa partisipan menceritakan tanggapan orang lain terhadap perokok dengan kemasan polos, mereka beranggapan bahwa kemasan polos tersebut tidak menyenangkan saat dilihat sehingga partisipan merasa malu dan menyembunyikan kemasannya.

       Dalam tanggapan perasaan akibat kemasan, banyak partisipan yang merasakan perasaan buruk. Yaitu merasa malu, kotor, tidak nyaman, dan merasa lebih bersalah. Beberapa dari mereka merasa bahwa rokok dari kemasan polos membuat mereka tidak bisa menikmatinya seperti mereka merokok dari rokok kemasan bermerk, karena gambar peringatan dikemasannya membayangi mereka setiap mereka merokok. 8 partisipan merasa berbeda dengan rokok dari kemasan polos. Ada partisipan yang menjadi tidak ingin menambah rokoknya karena merasa melakukan hal yang tidak benar saat merokok dengan kemasan polos ini.

       Dalam tanggapan tentang penghindaran dan perilaku merokok, 13 partisipan mengaku selalu menyembunyikan rokoknya dari orang lain. Partisipan biasanya merasa bebas mengeluarkan kemasan saat ingin merokok, namun dengan kemasan polos ini mereka membatasi dirinya ketika ingin merokok agar tidak dilihat orang. Terbukti pula beberapa partisipan mengaku merokok lebih sedikit, dan mematikan rokoknya lebih awal sebelum habis satu batang karena kemasan rokok ini. 3 partisipan bahkan menyatakan bahwa kemasan rokok ini membuat mereka berpikir untuk berhenti merokok.

        Dari hasil penelitian jurnal tersebut, menurut saya hal ini perlu diterapkan di Indonesia. Apabila kita tidak bisa menghentikan pemasaran, promosi, dan iklan rokok, maka penerapan kemasan rokok polos cukup efektif untuk mengubah perilaku perokok aktif melalui alam bawah sadarnya, menciptakan rasa bersalah dan tidak nyaman dengan merokok dari kemasan rokok polos.

Esensi penugasan: kita mampu membaca jurnal kesehatan dalam bahasa asing dan memahaminya serta merangkumnya, sehingga kita dapat terbiasa untuk menerima informasi-informasi seputar dunia kesehatan secara internasional.

CHAIRUNNISA NIKEN LESTARI

1406572832

S1 REGULER KESMAS 2014

SGD 10

TextIcon 2AM

analisis video keilmuan

Judul video : Indonesia’s Infant Smoking Epidemic  

http://www.youtube.com/watch?v=nlKx6VopiEI

Analisis video:

       Kita semua sudah tahu, fakta bahwa rokok di Indonesia merupakan fenomena negara yang sudah terkenal bahkan di dalam dunia internasional. Dari mulai penghasil tembakau besar di dunia, harga rokok yang menang sangat murah, angka perokok yang sangat tinggi, sampai angka balita perokok yang tinggi pula.

       Di dalam video tersebut, diperlihatkan tentang anak kecil berumur tujuh tahun merokok sejak ia berumur 5 tahun, dengan alasan karena ingin merasa bebas dan membuatnya merasanya nyaman saat berkumpul dan bergaul dengan temannya. Setelah itu, dalam video tersebut diperlihatkan bayi berumur dua tahun yang merokok di daerah Sumatera, bahkan akan merengeng, menangis, dan mengamuk apabila tidak diberi rokok sehari.

       Mengapa hal tersebut bisa terjadi? banyak sekali faktornya. Seto Muljadi, ketua Komnas perlindungan anak menyebutkan hal tersebut terjadi karena agresifnya pemasaran produk rokok. Namun, tidak hanya iklan, sponsorpun menjadi senjata utama industri rokok. Tetapi, menurut saya pribadi, fenomena bayi merokok tidak lepas dari peran orang tua sebagai sosok yang ditirukan setiap anaknya.

       Saya sendiri sebagai anak yang tumbuh di lingkungan non-perokok menganggap bahwa iklan-iklan industri rokok di sepanjang jalan yang kini sudah tidak terhitung lagi, tidak membuat saya tertarik untuk mencoba rokok. Tetapi, mungkin masyarakat lain dengan latar belakang pendidikan yang rendah mudah sekali terkena sasaran iklan-iklan rokok tersebut, ditambah lagi biasanya masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah hidup didalam lingkungan perokok, yang semakin memperkuat dorongan mereka untuk menjadi perokok aktif bahkan diusia yang sangat muda.

       Kita juga diperlihatkan didalam video tersebut, bagaimana reporter mewawancara beberapa narasumber, salah satunya petinggi Sampoerna, perusahaan rokok yang sangat dikenal di Indonesia. Narasumber tersebut mengerti betul akan bahaya rokok dan menekankannya berkali-kali, bahkan beliau juga mengakui bahwa pemerintah harus memperkuat aturan tentang akses rokok bagi anak-anak dibawah umur, saya mengapresiasi hal tersebut, namun mirisnya bahwa beliau sendiri tidak merokok.

       Hal tersebut menunjukkan bahwa kesehatan masyarakat di Indonesia sangatlah rusak. Masalah ini sudah terlalu besar sampai kita lupa dimana akar masalahnya. Banyak langkah-langkah yang bisa pemerintah terapkan guna menurunkan dan mengendalikan produksi tembakau, tetapi hal tersebut seakan sangat sulit dilakukan karena mempertimbangan terlalu banyak hal.

       Pemerintah bisa menyatukan pikiran untuk menaikkan tinggi-tinggi harga rokok, supaya rokok tidak mudah diakses orang, tetapi hal tersebut tidak pernah terwujud. Pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan untuk meratifikasi FCTC, tetapi hal tersebut tak kunjung dilakukan bahkan setelah berpuluh tahun dengan alasan pertimbangan petani tembakau dan pengrajin rokok.

       Kita tidak bisa melulu menyalahkan pemerintah, menurut saya SKM juga berperan besar dalam menurunkan angka perokok di Indonesia, yaitu dengan menanamkan kesadaran hingga memberikan pendidikan bahkan kalau perlu doktrin tentang bahaya merokok, agar orang dewasa berhenti memberi contoh buruk bagi generasi mudanya, terutama orang tua pada anak balitanya. Dengan begitu rantai perokok aktif di Indonesia dapat terputus. Saya percaya bila kita mulai dari diri sendiri, maka jalan akan selalu ada dan kita dapat mencapai tujuan kita yaitu Indonesia tanpa rokok.

Esensi penugasan : kita dapat memahami sebuah kasus ilmiah, menarik kesimpulan, dan menuangkan pikiran serta solusi terhadap kasus ilmiah melalui media video tersebut

CHAIRUNNISA NIKEN LESTARI

1406572832

S1 REGULER KESMAS 2014

SGD 10

TextIcon August262014

solidarisasi angkatan

Dunia perkuliahan jelas sangat berbeda dengan dunia sekolah, perbedaannya meliputi berbagai aspek, salah satu yaitu penamaan angkatan. Waktu kita SMA kita dinamakan angkatannya berdasarkan tahun kelulusan, namun kalau diperkuliahan setiap angkatan dinamakan berdasarkan tahun masuk. Kenapa demikan? Hal tersebut dikarenakan tidak setiap mahasiswa lulus di tahun yang sama. Namun biarpun begitu, kesolidan angkatan harus selalu dijaga. Bagaimana caranya? Berikut ini caranya:

Memahami diri sendiri

  1. Dengan memahami diri sendiri kita tentu dapat memahami pula orang lain. Melalui cara bersikap kita terhadap orang tersebut, dan memahami orang lain tidak hanya melalui luarnya saja namun juga dalamnya.
  2. Mengontrol emosi
  3. Harus dapat tegas dan jujur. Kita harus selalu mempertahankan pendapat dan pendirian kita. Juga harus bersikap tegas terhadap teman kita yang salah. Kita tidak boleh terus menerus menoleransi kesalahan teman kita.
  4. Berani berpendapat. Kita harus membuat gebrakan, dan kita harus berani mengutarakannya. Kita juga harus berani berpendapat supaya walaupun kita disukai orang tetapi kita tidak ditindas oleh mereka karena kita bersikap lemah.
  5. Harus punya keinginan membantu orang lain. Hal tersebut meliputi team building, seperti menghabiskan waktu bersenda gurau bersama, saling menyapa. Kita harus sadar akan eksistensi seseorang supaya kita juga disadari.

Mengerti orang lain.

  1. Kita harus paham bahwa tidak semua orang dapat diperbaiki, kecuali apabila dia yang mau mengubahnya sendiri. Tugas kita adalah memotivasinya.
  2. Namun kita jangan mengorbankan banyak waktu dan kepentingan tim untuk orang yang terlalu keras kepala. Kita tetap harus memiliki idealisme sendiri

Menuju angkatan yang solid.

  1. Miliki harapan yang realisitis bagi kita dan orang lain supaya satu tim tersebut dapat memiliki satu visi
  2. Pintar-pintar membaca situasi
  3. Menjaga sikap profesionalisme. Kita harus selalu dapat menjaga hubungan professional dalam berorganisasi walaupun kita tetap melakukan team building dengan bermain bersama anggota tim
  4. Bersedia mengakui kesalahan. Karena mengakui kesalahan bukan berarti lemah dan setelah mengakui kesalahan kita harus berjanji untuk memperbaikinya
  5. Tidak bisa memperlakukan semua orang sama. Karena setiap orang memiliki karakter berbeda-beda dan latar belakang yang berbeda pula
  6. Perlakukan orang secara “SPECIAL”

S: Serve (memberi kenyaman pada teman dalam hal apapun)

P: Personalize (mencari tahu kesukaan dan yang tidak mereka sukai. Perlakukan teman dengan unik dan disesuaikan)

E: Encourage (semangati orang lain untuk melanjutkan apa yang baik, dan juga semangati teman untuk menghentikan apa yang tidak baik)

C: Courtesy (hormati sekecil apapun peran seseorang. Seperti CS, satpam)

I: Interest (tunjukkan minat kita untuk menghubungi orang lain)

A: Appreciate (kita harus menghargai kerja keras orang, apresiasilah tanpa ragu untuk menjaga semangatnya)

L: Listen (kita senang apabila ada tempat untuk mendengarkan keluh kesah, cerita atau apapun yang ingin kita ungkapkan, maka dengarkanlah pula orang lain)

TextIcon 9AM

Dunia perkuliahan jelas sangat berbeda dengan dunia sekolah, perbedaannya meliputi berbagai aspek, salah satu yaitu penamaan angkatan. Waktu kita SMA kita dinamakan angkatannya berdasarkan tahun kelulusan, namun kalau diperkuliahan setiap angkatan dinamakan berdasarkan tahun masuk. Kenapa demikan? Hal tersebut dikarenakan tidak setiap mahasiswa lulus di tahun yang sama. Namun biarpun begitu, kesolidan angkatan harus selalu dijaga. Bagaimana caranya? Berikut ini caranya:

  1. Memahami diri sendiri
    1. Dengan memahami diri sendiri kita tentu dapat memahami pula orang lain. Melalui cara bersikap kita terhadap orang tersebut, dan memahami orang lain tidak hanya melalui luarnya saja namun juga dalamnya.
    2. Mengontrol emosi
    3. Harus dapat tegas dan jujur. Kita harus selalu mempertahankan pendapat dan pendirian kita. Juga harus bersikap tegas terhadap teman kita yang salah. Kita tidak boleh terus menerus menoleransi kesalahan teman kita.
    4. Berani berpendapat. Kita harus membuat gebrakan, dan kita harus berani mengutarakannya. Kita juga harus berani berpendapat supaya walaupun kita disukai orang tetapi kita tidak ditindas oleh mereka karena kita bersikap lemah.
    5. Harus punya keinginan membantu orang lain. Hal tersebut meliputi team building, seperti menghabiskan waktu bersenda gurau bersama, saling menyapa. Kita harus sadar akan eksistensi seseorang supaya kita juga disadari.
    6. Mengerti orang lain.
      1. Kita harus paham bahwa tidak semua orang dapat diperbaiki, kecuali apabila dia yang mau mengubahnya sendiri. Tugas kita adalah memotivasinya.
      2. Namun kita jangan mengorbankan banyak waktu dan kepentingan tim untuk orang yang terlalu keras kepala. Kita tetap harus memiliki idealisme sendiri
      3. Menuju angkatan yang solid.
        1. Miliki harapan yang realisitis bagi kita dan orang lain supaya satu tim tersebut dapat memiliki satu visi
        2. Pintar-pintar membaca situasi
        3. Menjaga sikap profesionalisme. Kita harus selalu dapat menjaga hubungan professional dalam berorganisasi walaupun kita tetap melakukan team building dengan bermain bersama anggota tim
        4. Bersedia mengakui kesalahan. Karena mengakui kesalahan bukan berarti lemah dan setelah mengakui kesalahan kita harus berjanji untuk memperbaikinya
        5. Tidak bisa memperlakukan semua orang sama. Karena setiap orang memiliki karakter berbeda-beda dan latar belakang yang berbeda pula
        6. Perlakukan orang secara “SPECIAL”

S: Serve (memberi kenyaman pada teman dalam hal apapun)

P: Personalize (mencari tahu kesukaan dan yang tidak mereka sukai. Perlakukan teman dengan unik dan disesuaikan)

E: Encourage (semangati orang lain untuk melanjutkan apa yang baik, dan juga semangati teman untuk menghentikan apa yang tidak baik)

C: Courtesy (hormati sekecil apapun peran seseorang. Seperti CS, satpam)

I: Interest (tunjukkan minat kita untuk menghubungi orang lain)

A: Appreciate (kita harus menghargai kerja keras orang, apresiasilah tanpa ragu untuk menjaga semangatnya)

L: Listen (kita senang apabila ada tempat untuk mendengarkan keluh kesah, cerita atau apapun yang ingin kita ungkapkan, maka dengarkanlah pula orang lain)

TextIcon August132014

FCTC untuk Generasi Muda Indonesia yang Lebih Baik

Jujur, saya sendiri baru pertama kali mendengar Framework Convention Tobacco Control atau biasa disingkat FCTC. Apa sebenarnya FCTC itu? Framework Convention Tobacco Control dalam bahasa Indonesia disebut Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional pertama dinegosiasikan di bawah naungan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Ketika Dr Gro Harlem Brundtland menjadi direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia pada tahun 1998, ia dengan jelas menyatakan bahwa epidemi tembakau harus ditangani oleh tindakan kolektif internasional dan WHO harus mengambil peran. Maka, pada tahun 1999 kepemimpinan WHO mulai bekerja pada Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau, yang didukung oleh negara-negara anggota pada 21 Mei 2003, dan mulai berlaku pada 27 Februari 2005 Sejak itu menjadi salah satu perjanjian yang paling cepat dan secara luas dianut dalam sejarah PBB.

 Ini adalah pertama kalinya WHO telah menggunakan kewenangan konstitusionalnya dalam kesehatan masyarakat global untuk mengembangkan instrumen hukum yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan penduduk. Inisiasi dan negosiasi kerangka konvensi didasarkan kuat pada akumulasi bukti ilmiah.

            FCTC sendiri memiliki tujuan yang spesifik, yaitu untuk melindungi generasi masa kini dan masa mendatang dari dampak konsumsi tembakau dan paparan asap rokok terhadap kesehatan, sosial, lingkungan dan ekonomi, melalui sebuah kerangka kerja untuk pengendalian tembakau.

            Namun sedihnya, Indonesia hingga saat ini belum meratifikasi dan menandatangani FCTC WHO ini. Bahkan, tiga negara penghasil tembakau terbesar di dunia telah meratifikasi dan menandatangani FCTC WHO, yaitu China, Brazil dan India. Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang belum meratifikasi dan belum menandatangani FCTC. Menurut data WHO, sejak penandatangan FCTC pertama kali dilakukan oleh 168 negara dalam rentang waktu antara 2003-2004. Sampai dengan Juli 2013, tercatat 177 negara menyatakan sebagai negara pihak FCTC melalui mekanisme ratifikasi atau aksesi FCTC, ditambah 9 negara yang sudah menandatangani namun masih belum meratifikasi FCTC. Sementara itu, tinggal 8 negara anggota WHO yang tidak menandatangani dan belum mengaksesi FCTC, yaitu: Andorra, Liechtenstein, dan Monaco (Eropa); Zimbabwe, Malawi, Somalia, dan Eritrea (Afrika) serta Indonesia (Asia).

            Alasan yang dikemukakan bervariasi, salah satunya yang paling menjadi benang merah adalah nasib para petani tembakau. Menurut Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir, tak mudah bermigrasi dari tanaman tembakau ke tanaman komoditas lain mengingat pertanian tembakau sudah dilakukan turun temurun. Selain itu, sumbangan cukai rokok terhadap pendapatan APBN sangat besar. Tahun ini saja, sesuai APBN, pemerintah menargetkan menerima cukai rokok hingga Rp116,28 triliun.

            Apakah 116,28 triliun rupiah ini sepadan dengan angka kematian tinggi bagi generasi muda Indonesia? Seperti yang sudah kita ketahui, fenomena merokok di Indonesia sudah sangat familiar dari sejak dahulu. Banyak ditemukan anak dibawah umur menghisap rokok, mulai dari siswa sekolah menengah pertama (SMP), bahkan sampai anak-anak seumuran sekolah dasar. Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka perokok aktif di Indonesia, mulai dari penyuluhan-penyuluhan tentang rokok hingga dampak buruknya, peringatan-peringatan yang dipasang di iklan atau baliho sepanjang jalan, sampai aturan yang disusun di dalam undang-undang tentang merokok di tempat umum.

            Namun tidak dapat dipungkiri bahwa usaha-usaha yang telah dilakukan pemerintah nihil. Masih banyak ditemukan masyrakat Indonesia merokok dan produksi tembakau terus berjalan aktif. Lantas apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Menurut saya, Indonesia perlu meratifikasi FCTC ini. Karena FCTC memiliki visi dan misi yang jelas, tegas, dan tepat sasaran.

FCTC telah menyusun langkah-langkah untuk menekan penggunaan tembakau sedemikian rupa, Langkah-langkah yang berkaitan dengan pengurangan permintaan untuk tembakau terdiri dari beberapa langkah, yaitu mengatur kembali harga dan pajak, memberi perlindungan dari paparan asap tembakau lingkungan, diciptakannya peraturan dan pengungkapan isi produk tembakau, kemasan dan pelabelan, diadakannya pendidikan, komunikasi, pelatihan, dan kesadaran masyarakat, diciptakannya larangan komprehensif dan pembatasan iklan rokok, promosi, dan sponsorshi, sampai sosialisasi ketergantungan tembakau dan langkah-langkah penghentian. Adapun Langkah-langkah yang berkaitan dengan pengurangan pasokan tembakau, yaitu: penghapusan perdagangan gelap produk tembakau, pembatasan penjualan dan oleh anak di bawah umur, serta dukungan untuk alternatif ekonomi bagi petani.

Beberapa langkah FCTC  diatas sudah diterapkan di Indonesia untuk menekan perkembangan produksi tembakau dan untuk menurunkan angka perokok, namun seperti yang saya bilang sebelumnya, usaha-usaha yang dilakukan pemerintah nihil. Menurut saya ini disebabkan oleh kurangnya perencanaan yang matang dalam langkah-langkah yang dibuat. Dengan bergabungnya Indonesia ke dalam FCTC, Indonesia dapat memiliki arahan yang lebih jelas tentang apa yang harus dilakukan untuk menekan perkembangan dan pemakaian tembakau, sehingga usaha yang dilakukan dapat memiliki hasil, dan nasib petani tembakau tidaklah lagi menjadi masalah, karena dalam FCTC sudah pula dipikirkan bagaimana alternatif ekonomi bagi para petani. Selain itu, segala penyuluhan tentang tindakan prefentif maupun represifnya lebih terarah pula, karena telah disusun sedemikian rupa oleh ahli-ahli internasional dari FCTC.

Selanjutnya, Indonesia harus memiliki tekad yang bulat untuk menyelesaikan permasalah tembakau ini sampai ke akar, agar masalah tembakau ini dapat diselesaikan secara tuntas dan tidak akan terulang kembali. Kita juga harus percaya, bahwa apabila niat kita baik, yaitu untuk menyelamatkan kesehatan dan nilai moral bangsa, khususnya generasi muda kita, kelak perusahaan-perusahaan tembakau dapat menemukan bisnis yang lebih baik dengan keuntungan yang lebih baik pula.

 Pemerintah dan masyarakat harus berjuang bersama-sama menurunkan angka perokok juga perkembangan tembakau ini, agar kesehatan masyarakat Indonesia menjadi lebih baik tanpa rokok dan angka kematian akibat rokok menurun, serta nilai moral bangsa kita ini kembali memiliki perannya.

http://www.sucofindo.co.id/berita-terkini/3091/pemerintah-tidak-gegabah-ratifikasi-fctc.html

http://www.depkes.go.id/index.php?vw=2&id=2369

http://www.who.int/fctc/about/en/

Esensi penugasan:

Kita dapat mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia dengan tembakau kita, dan berpikir kritis tentang apa benang merah dan solusi yang terkait dengan topik ini.

Box 1 of 33