September242014
resume buku tokoh pergerakan
Gie adalah pemuda kritis yang mulanya adalah pemuda yang sering merasa gusar dalam perasaan dan pemikirannya yang terus bertumbuh lalu mencurahkan ide – ide, pemikirannya dalam rentetan catatan harian yang menjadi teman setianya hingga 12 tahun. Pada masa itu, terjadi pergolakan besar – besaran di negara Indonesia. Gie, selain menjadi saksi juga menjadi tokoh yang ikut memberikan andil dalam perubahan. Selain lewat catatan hariannya yang menjadi his life privation recorded, Ia juga merekam jejak pemikirannya dalam berbagai media cetak yang saat itu diharapkan mampu menyebarkan pola pikirnya yang cenderung idealis namun realis. Secara nyata, Ia juga menjadi pion utama dalam tonggak awal demonstrasi mahasiswa, pergerakan mahasiswa yang mulai menanyakan berbagai kebijakan pemerintah dengan melakukan aksi turun ke jalan.
Lewat catatan hariannya, akan terlihat Gie yang begitu idealis, nasionalis, realis dan yang lebih penting, Ia menjadi sosok yang selalu menjunjung nilai kebenaran. “Siang tadi ketika aku momong kera, aku bertemu dengan seorang (bukan pengemis) yang tengah memakan kulit mangga…… dan kuberikan Rp. 2,50 dari uangku. Uangku hanya Rp 2,50 waktu itu….. Ya, dua kilometer dari pemakan kulit, “paduka” kita mungkin lagi tertawa – tawa, makan – makan dengan istri – istrinya yang cantik….. Kita, generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau…. Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia…… Cuma pada kebenaran kita harapkan. Kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu. Sebuah nilai kebenaran yang menjadi acuan kehidupan seorang Gie sehingga selanjutnya ia akan dikenal sebagai sosok yang keras namun real dalam bertindak dan mencoba mengembalikan ‘kesadaran’ masyarakat yang sudah kadung melihat pemerintah sebagai suatu area ‘tabu’ untuk disentuh. Dan Ia melakukannya.
Soe Hok Gie. Pemuda yang kritis pada jalannya keadilan juga memiliki ‘pelarian’ selain perjuangannya di kampus kepada pemerintah. Kekagumannya pada alam dan kegemarannya menaiki gunung menjadikan pribadinya semakin tangguh namun seketika rapuh saat menikmati keindahan alam yang ia rekam melalui tulisannya. Ini juga yang menjadi arus kegiatan bernama MAPALA yang telah Ia buat jauh waktu sebelumnya. Bersama kawan – kawannya, melalui sebuah organisasi kecil yang tercipta hanya untuk pergi ke alam dan menikmati kebesaranNya.
Namun sayangnya tokoh inspiratif yang sangat kita kagumi ini meninggal pada umur yang sangat muda, yaitu pada usia 26 tahun, di tempat yang ia kagumi dan merupakan tempat ia menikmati keindahan, yaitu gunung semeru. Penyebab kematian Gie masih simpang siur sampai sekarang, tapi satu yang pasti, bahwa pada Desember 1969 kita telah kehilangan satu manusia inspiratif yang kritis, yang telah berperan banyak dalam sejarah Indonesia.
Esensi: kita dibiasakan membaca cerita yang panjang namun inspiratif supaya kita bisa mengadaptasi nilai positifnya dalam kehidupan sehari-hari dan kita memiliki idealisme yang lebih baik sebelumnya sebagai mahasiswa.

